Blogger Widgets

Senin, 26 Oktober 2015

Waktu Indonesia Barat

Biar lebih enak bacanya sambil dengerin lagu ini: https://www.youtube.com/watch?v=c1qUs0ipz2M



"Nad, kamu dimana?"


Sepenggal kalimat pendek beberapa bulan lalu. Bunyi chat yang membuyarkan lamunanku ketika mata kuliah Pengantar Teknologi Pertanian, sekaligus chat pertama yang ia kirim kepadaku.
Ya. Dia adalah tiga yang kupanggil empat dan aku adalah lima yang dia panggil tiga. Sulit dipahami, biar kami saja yang mengerti.
Bermula ketika rapat projek sosial untuk acara ospek kampus kami. Di rapat itu kami dan yang lainnya saling mengeluarkan pendapat. Kulihat dia seperti orang yang sudah biasa di ruang lingkup organisasi, sepertiku. Dia mencalonkan menjadi ketua panitia, dan aku menjadi sekretaris. Biasa saja, ya memang biasa. Kulihat dia tanpa ada yang spesial, sama saja seperti laki-laki lain.
"Nadya? Nadya kan yang sekretaris projek sosial?" bukan, bukan dia yang menyapa. Temannya, dan ternyata ada dia disampingnya. Kejadian itu tepat keesokan hari setelah rapat. "Iya? Aku lupa nama kalian siapa ya? hehe" memang aku begitu, biarkan saja. Lalu aku diajak mereka gabung dan berbicara lebih lanjut mengenai projek sosial tersebut. Pertama kalinya kami mengobrol dekat. Setelah itu aku diajak mereka mengunjungi sekre hima-unit untuk tugas ospek. Tetapi temannya izin untuk pergi ke bapendik mengurus sesuatu. Ya, hanya ada kita berdua.
Kami mengunjungi satu persatu sekre hima-unit. "Kamu mau ikut ukm apa?" "Aku bingung, kayaknya english club deh. Tapi yang lain belum tau. Kalau kamu?" "Aku mau ikut semua aja ah" Ok, dan sepertinya dia memang ikut hampir semuanya.
Ada 2 ukm yang kita ikuti bersama. Tapi, dia lebih fokus ke ukm olahraga, karena itu memang hobi dan basicnya, katanya.
Dari situ kita jadi lebih banyak waktu untuk bertemu. Entah untuk membicarakan tentang ospek, projek sosial, keorganisasian, sekolah asal, bahkan cerita tentang kepribadian dan kehidupannya. Ya, dia sering bercerita tentang dirinya sendiri, bagaimana dia, apa yang dia suka dan tidak suka, bahkan pertumbuhannya sejak kecil hingga saat ini. Oiya, tentang rencana dia kedepan juga sih. Sedangkan aku? Aku tipe orang yang tidak suka membicarakan diriku ke seseorang yang belum dekat denganku. Aku cukup jadi pendengar yang baik. Toh, sepertinya dia juga nggak mau tau tentangku.
Waktu demi waktu, hari demi hari kami lewati bersama. Entah apa saja yang sudah kita bicarakan secara langsung maupun personal chat di line. Entah berapa puluh menit call dan video call yang sering kita lakukan. Entah tempat makan dan tempat umum mana saja yang sudah kita singgahi. Dan entah sudah berapa ribu pijakan langkah yang kita lalui bersama. Aku merasa nyaman dengannya. Selalu aman jika ada didekatnya. Hingga melupakan kenyamananku dengan pacarku.....

Ya, aku punya pacar. Setahun lamanya. Aku nggak tau kenapa perasaanku bisa kayak gini. Aku nggak punya perasaan apapun dengannya, tapi disisi lain rasaku mulai memudar terhadap pacarku. Jenuh. Itu yang kurasakan.

Dan parahnya, empathurufpun juga punya pacar. Empat tahun lamanya. Gila! Ya, aku memang kepo dengannya. Aku tau itu dari temanku yang juga satu sekolah dengan pacarnya, juga akun instagram pacarnya.

Lalu, bagaimana mungkin kami bisa melewati itu semua bersama?

Bagaimana mungkin dia sangat perhatian denganku dan menghabiskan waktunya bersamaku?

Teman-temanku bahkan tidak suka dengannya. Walaupun aku sudah membangga-banggakannya. Dia ganteng, tinggi, putih, keren, modis, hobi olahraga dan lumayan mengerti musik, pintar dan cinta organisasi. Such a prince charming!

Rabu, 23 September 2015
Aku pulang ke Bekasi dan dia pulang ke Jakarta. Kami pulang bersama, disatu kereta yang sama. Tidak banyak yang kami lakukan kecuali diam, makan dan tidur.
Sabtu, 26 September 2015
Kabar buruk, aku putus dengan pacarku. Aku mengatakan sejujurnya tentang apa yang aku rasakan. Aku nggak bisa membohongi perasaanku. Apa aku salah? aku tau aku udah jahat banget menyia-nyiakan seseorang yang sayang sama aku untuk ke sekian kalinya. Awalnya dia marah, lalu akhirnya menerima. Kami kembali menjadi teman seperti sebelumnya.
Minggu, 27 September 2015
Aku kembali ke Purwokerto. Bersamanya lagi. Di stasiun, dia bersama pacarnya, dan seperti tidak mengenalku. Di dalam kereta, "Itu tadi pacarmu?" "Bukan, saudaraku." suatu pernyataan yang mengejutkan bagiku. Pasalnya, aku hafal betul wajah pacarnya. Lalu, dia berbohong???? Kenapa dia nggak mengakui itu pacarnya???? Biarlah, itu rahasianya.

Setelah kejadian itu, entah karena apa kami jadi jauh. Dia yang menjauhiku,tepatnya. Dia seperti nggak mengenal aku. Buang muka kalau ketemu aku. Kami juga nggak chat seperti biasa.
Menyedihkan memang kalau dipikir-pikir. Orang yang bikin kita nyaman kemarin, bisa seperti orang asing saat ini. Hanya hitungan hari semuanya berubah. Nggak kayak dulu. Seperti orang yang sama sekali nggak saling kenal. Aku nggak menanyakan kejelasan dia menjauhiku. Hanya satu yang dapat kupahami; nggak semua orang datang di kehidupan kita untuk tetap bersama kita. Terkadang orang itu hanya singgah sesaat, lalu pergi.

Sudah berminggu-minggu tanpa bertemu dia. Kurasa aku telah terbiasa tanpanya, seperti waktu sebelum mengenal dia. Terakhir, yang kutahu kabar dirinya melalui temanku adalah dia dekat dengan cewek dari prodi lain. Congrats, dude!



1 komentar:

  1. tetep strong. fokus aja tanpa km hrs nunjukkin krn km emg udah lupa sama dia. tiba2 dia nyesel pernah ngelakuin itu, just it.

    BalasHapus