Blogger Widgets

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Tak Berujung


Dio, Dio, Dio, Dio lagi. Tita sebal dengan nama itu. Orangnya juga, selalu ada di mimpi Tita. Tita sebal karena harus bertemu setiap pagi dengan Dio. Tita sebal harus melupakan senyum manis Dio. Tita sebal harus melupakan kenangan manisnya dengan Dio di masa kecil. Bukan, bukan karena Dio yang salah, bukan karena Dio yang sengaja bikin Tita jatuh cinta dengannya, bukan salah Dio yang ganteng dan baik hati juga. Tapi, karena Dio pacarnya Maura, sahabat Tita.
Pagi itu, Tita bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah sarapan dan pamit dengan Mama dan Papa, seperti biasa Tita berselingan dengan Dio yang juga ingin berangkat sekolah. Dio yang rumahnya berada di dua rumah sebelah kanan setelah rumah Tita, selalu melewati rumah Tita bila berangkat sekolah. Dio tersenyum hangat pada Tita sambil menaikkan satu alis tebalnya. Itu ciri khas Dio yang nggak bisa Tita lupakan. Dengan menaiki motor besar, memakai jaket denim dan helm kesayangan Dio, Dio seringkali mengajak Tita berangkat sekolah bareng. Tetapi Tita selalu menolak ajakan Dio dengan sopan.
“Ta, bareng yuk! Udah jam segini, nungguin bus lama. Daripada lo telat” Ajak Dio, yang membuka kaca helm dengan gantengnya.
            “Enggak deh Yo, lo duluan aja” tolak Tita sopan.
            “Yee, masa gue tega ngeliat sahabat gue di hukum hormat tiang bendera gara-gara telat?” ajaknya sekali lagi.
            “Hmm, yaudah deh” jawab Tita yang akhirnya menerima ajakan Dio. Itu kali pertama Tita mau menerima tawaran Dio.
            “Ta, pegangan yang kuat ya. Gue mau ngebut” kata Dio yang memecahkan lamunan Tita. Dipegangnya besi belakang motor Dio dengan kuat. Karena kesiangan, Tita lupa menguncir rambutnya yang sebahu. Biasanya dia selalu mengikat rambut indahnya dengan pita kesayangannya. Alhasil rambut Tita berterbangan ditiup angin. Dan mata Tita kelilipan debu. Refleks dia melepas tangan untuk mengucek matanya yang gatal. Dio yang tiba-tiba menggas motornya mendadak membuat Tita jadi tak seimbang. Dengan refleks pula Tita menarik jaket Dio sehingga bahu Tita maju menempel dengan punggung Dio. Sekejap sepersekian detik, Tita langsung mengubah kembali posisi duduknya. Dio tahu Tita tidak sengaja. Kejadian itu sukses membuat Tita malu dan salah tingkah. Dalam hatinya menggerutu kesal dengan sikap konyolnya itu. “Aduh, bego banget sih gue! Pasti Dio pikir gue yang sengaja deh!” gerutu Tita dalam hati.
            Sesampainya di sekolah, Tita cepat-cepat turun dari motor. “Yo, makasih ya.” Ucap Tita singkat. Lalu dia membalikkan tubuh untuk segera pergi ke kelas. Dia berharap Dio mau melupakan kejadian tadi pagi di jalan. “Ta…” panggil Dio, masih disamping motornya. Tita menghentikan langkahnya. Bagai patung bernyawa, dia diam di tempat. “Gue senang kita bisa deket gini. Kayak dulu lagi.” Ungkap Dio. Jantung Tita berdegup kencang. Tita menengokkab wajahnya dan tersenyum pada Dio. Ya, hanya itu yang dapat Tita berikan. Andai Dio tahu, bahwa dia juga sangat senang bisa sedekat itu lagi dengan Dio, sahabat kecilnya.
           
“Hai Titaaa!” sapa Adit.
            “Dit, ngapain dibangku Maura? Maura mana?” Tanya Tita sinis tanpa membalas sapa Adit.
            “Pagi-pagi udah jutek aja, Non. Tuh Maura lagi piket.” Jawabnya. Seketika Maura datang.
            “Cie kalian pagi-pagi udah berduaan aja.” Ledek Maura.
            “Apaan sih, Ra? Minggir Dit, gue mau duduk sama Maura!” perintah Tita. Dengan wajah kecewa, Adit bangun dan kembali ke tempat duduknya. “Eh Ta, kok elo jutek banget sih sama dia? Dia kan udah baik banget sama elo. Dari awal masuk sekolah sampai sekarang dia masih suka banget sama elo.” Jelas Maura.
            “Tapi kan gue gak suka sama dia, Ra” jawabnya singkat.
            “Lo nggak suka dia bukan berarti lo harus jutekin dia kan, Ta?” kata Maura. Tita hanya terdiam dan menengok ke arah tempat duduk Adit. Benar juga ya kata Maura. Apa salahnya bersikap baik sama orang yang udah baik juga sama kita… Gumam Tita dalam hati.


“Gue senang kita bisa dekat gini.
Kayak dulu lagi.” Ungkap Dio. Jantung Tita berdegup kencang.
         

Pada jam pelajaran fisika, Tita teringat kejadian tadi pagi. Dio, yang notabene nya hanya sekadar teman kecil Tita, berhasil membuat Tita jatuh cinta dengannya. Dio yang dulu selalu membela Tita bila dia dijahili teman-temannya. Dio yang selalu memanggil Tita dengan panggilan khusus ‘Ribbon’-nya. Iya, Dio memanggil Tita dengan nama itu karena Tita sangat suka memaki pita. Di kamar Tita, banyak sekali koleksi pita yang Tita punya. Bahkan wallpaper dinding kamar Tita bermotif pita. Tapi, semenjak kejadian itu dan karena Tita ingin melupakan semua yang pernah terjadi antaranya dan Dio, dia tidak pernah lagi memakai pita. Walaupun sampai kini dia masih menyimpan rasa itu dalam-dalam. Dan Tita kangen masa-masa kecilnya dulu.
            “Titania Elyza!” bentak bu Riana, guru fisika yang dikenal paling killer satu sekolah. Seketika Tita kaget dan satu kelas memandangi dirinya.
            “I..Iya bu. Ada apa?” pertanyaan yang bodoh bagi Bu Riana.
            “Ada apa kamu bilang? Berani sekali kamu melamun pada jam pelajaran saya. Sekarang silakan kamu keluar dari kelas ini sampai jam pelajaran saya habis.” Hardik Bu Riana dengan nada tingginya. Dengan perasaan malu dan menyesal, Tita keluar dari kelasnya.
            “Ta!!!” panggil seseorang jauh dibelakang Tita. Seketika Tita menengok ke belakang.
            “Lo ngapain disini?” Tanya Tita heran.
            “Mau nemenin elo.” Jawab Adit.
            “Hah?” Tita terperangah kaget. Adit sengaja makan snack dikelas yang pastinya suara renyah dari snack tersebut membuat Bu Riana mengusirnya dari kelas juga. Tita dan Adit duduk berdua di anak tangga ketiga paling bawah yang tidak jauh dari ruang kelas mereka. Hening. Sunyi. Setidaknya itu yang Tita rasakan sekarang.
            Adit duduk dengan kedua tangannya yang bersimpuh memeluk lutut. Dagunya berada menempel diatas lutu. Sambil menengokkan wajahnya ke arah Tita. Tita yang sedari tadi terdiam, seketika kaget melihat Adit sedang menatapi dirinya. Tita salah tingkah. “Dit!” ujar Tita untuk menyadarkan Adit, yang masih sibuk menatapi dirinya.  “Hei, Dit! Lo kenapa sih?” Tanya Tita yang akhirnya menyadarkan Adit karena Tita juga memukul pelan lengan Adit.
            “Hah! Kenapa, Ta?” Tanya Adit yang membuat Tita semakin heran.
            “Lo kenapa? Sakit ya?” Tanya Tita lembut. Baru pertama kalinya Tita selembut itu pada Adit.
            “Gapapa kok, Ta. Makasih ya” ucap Adit berbinar.
            “Ayo ke kelas, Dit! Kayaknya jam pelajaran Bu Riana udah abis tuh!” ajak Tita.
            “Nanti ya, Ta. Ikut gue yuk!” ajak Adit balik.
            “Mau kemana…” belum selesai Tita bertanya, Adit menarik lengan Tita lembut. Adit membawa Tita ke taman belakang sekolah mereka. Dengan masih memegangi lengan Tita, dia mengajaknya duduk di sebuah bangku kayu panjang dengan ditengahnya banyak tanaman mawar merah dan bunga matahari.
            “Dit, sejak kapan sekolah kita punya taman seindah ini?” Tanya Tita yang masih terperangah melihat pemandangan disekitarnya.
            “Serius lo belum pernah kesini? Berarti ini pertama kalinya, dong? Dan sama gue? Hehe” kata Adit sambil sedikit menyengir.
            “Iya. Gue kira bakal ada apaan sih di belakang sekolah kita. Paling cuma pepohonan dan dedaunan kering.” Ujar Tita, masih melihat-lihat sekitarnya.
            Keheningan menyelimuti kedua orang tersebut. Siang itu, matahari terasa begitu menyengat. Tetapi tidak bagi Adit dan Tita. Dibawah pohon yang rindang, mereka tertutupi oleh panasnya matahari. Lagi, Adit menatap wajah Tita dengan penuh perhatian. Entah apa tujuan dan maksud dari tatapan itu. Baginya, duduk berdua Tita dengan jarak sedekat ini adalah momen terindah. Hanya berdua.
            “Eh, Dit. Udaranya sejuk ya. Gue jadi ngantuk” ujar Tita sambil menguap, ditengah keheningan. Tita menengok ke teman sebelahnya yang sedang menatapi dirinya. “Adit! Kebiasaan banget sih lo. Lama-lama gue pasang tarif juga nih ya buat yang suka tatap gue kayak gitu. Risih tau!” keluh Tita. Adit hanya tersenyum dan mengajaknya kembali ke kelas. Di perjalanan ke kelas, mereka berdua lebih banyak diam. Tita masih bingung dengan sikap Adit yang biasanya aktif, menjadi lebih pendiam seperti itu.


                                                                                    ****

“Eh, lo abis dari mana sih? Pelajaran fisika udah abis daritadi tau! Jangan-jangan lo berdua….” Ujar Maura sesaat ketika Tita baru duduk ditempatnya.
            “Apaan sih, Ra? Gue nggak abis dari mana-mana kok” jawab Tita, bohong.
            Tita nggak mungkin jujur sama siapapun kalau dia abis ke taman berdua dengan Adit. Sebenarnya nggak ada salahnya kalau dia menerima tawaran Adit untuk menjadi pacarnya. Adit ganteng kok! Ramah, baik, lumayan pintar juga. Adit udah berkali-kali nembak Tita. Tapi Tita belum bisa menerima Adit. Andai Tita bisa. Bisa melupakan dan melepas Dio dengan senang hati. Mungkin dia mau ngebuka hati buat Adit. Sayangnya, Tita belum bisa.
            “Hai, Ta” sapa Dio didepan kelas Tita.
            “Hai juga, Yo! Mau cari Maura, ya? Ada tuh didalam kelas, masuk aja!” balas Tita masih sambil mendengarkan mp3 dengan headsetnya.
            “Iya, Ta. Hm, nanti malam ada dirumah nggak, Ta? Tanya Dio.
            “Ada, kenapa Yo?” jawab Tita melepas headset.
            “Oke, nanti gue ke rumah lo ya!” ujar Dio, tersenyum manis sambil sesaat pergi masuk ke dalam kelas Tita untuk menemui Maura, pacarnya. Hah? Dio mau ke rumah gue? Ngapain? Gumamnya dalam hati.
            Tita yang sedari tadi duduk sendiri di dekat pintu kelas melirik ke arah Dio dan Maura sedang duduk berdua. Mereka terlihat serasi. Tita senang bisa memperkenalkan Maura dengan orang yang Maura suka. Sampai akhirnya mereka berpacaran. Tita senang melihat kedua orang yang Tita sayang bahagia.

                                                                                    ****

            “Taaaa, ada Dio tuh di bawah” panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Tita. Dia segera keluar kamar menemui Dio. Entah sudah berapa lama Dio tak pernah main ke rumah Tita lagi. Hanya bila ada keperluan penting saja Dio ke rumah Tita, sebentar. Dengan hanya memakai celana jeans selutut dan kaos biru berkerah santai, Tita menemui Dio yang tengah mengobrol dengan Papa Tita.
            “Hai, Ta!” sapa Dio. “Nah, itu Tita. Om tinggal dulu ya, Dio.” Kata Papa Tita pada Dio. “Oh, iya om. Makasih ngobrol-ngobrolnya, Om” kata Dio. Papa Tita meninggalkan mereka berdua.
            “Ada apa, Yo? Tumben kesini.” Tanya Tita.
            “Hah! Emang gue jarang banget kesini ya sampai lo bilang gitu?” Tanya Dio heran. Tita merasa nggak enak hati atas pertanyaannya tadi.
            “Eh, bukannya gitu. Tapi….”
            “Ta, ajak gue ke atap rumah lo dong. Gue pengen ngerasain angin malam dari sana nih!” potong Dio.
            “Yaudah, yuk!” tanpa basa-basi, Dio dan Tita segera menuju ke atap rumah Tita. Dulu, mereka sering banget main disana. Tiduran berhadapan langsung dengan langit, memandangi dan menghitung banyaknya bintang diatas sana.
            Setibanya disana, Dio berdiri dan menarik napas dalam-dalam. Tita masih tidak mengerti maksud Dio mengajaknya kesini.
            “Ta, lo masih ingat kan kalau dulu kita sering banget kesini. Hitung bintang yang ada di langit. Main layang-layang berdua. Lo dulu juga pernah ketiduran disini, kan? Untung ada gue yang jagain. Kalau nggak ada gue, lo bisa jatuh dari sini, Ta. Hahaha” jelas Dio, masih sambil tiduran memandangi langit dan tersenyum hangat.
            Tita yang sedari tadi terdiam, kini merebahkan tubuhnya disamping Dio. Tita ingat masa-masa itu. Semua tentang masa kecilnya bersama Dio, nggak akan bisa dia lupakan.
            “Oh iya! Lo ingat nggak pas gue ngerjain lo dengan gue tumpahin air di lantai rumah lo dan alhasil lo kepeleset. Lo nangis nggak berhenti-berhenti. Ternyata jari kaki lo kesleo dan gue dimarahin abis-abisan sama orang tua gue. Lo tau nggak, mulai dari situ gue berjanji satu hal sama diri gue sendiri.” Ujar Dio, masih sambil memandangi langit.
            Tita tersenyum malu mendengar cerita Dio. Dia ingat betul kejadian demi kejadian 11 tahun lalu. Tita terperangah menengok ke arah Dio saat mendengar ucapan terakhirnya itu.
            “Gue janji sama diri gue sendiri, kalau gue bakal jagain lo selamanya, Ta.” Lanjut Dio. Jantung Tita bagai disambar petir. Degupnya melebihi saat pertama kali Tita dan Dio naik wahana halilintar di Dufan.
            “Ta, lo ingat nggak waktu itu kita juga pernah taruhan sesuatu. Haha konyol banget ya taruhannya.” Tambah Dio. Untuk yang satu itu, Tita sedikit lupa. Tita masih sibuk menyembunyikan keras degup jantungnya. Ia takut Dio dapat mendengarnya.
            “Taruhan apa, Yo? Gue agak lupa hehe” Tanya Tita.
            “Lo lupa? Itu lho yang kita tebak berapa banyak bintang yang terlihat di langit. Lo pilih ganjil dan gue genap. Dan akhirnya gue yang menang haha” jelas Dio.
            “Dan lo ingat nggak taruhannya apa?” lanjut Dio.
            Tita hanya menggeleng. Dia benar-benar lupa dengan hal yang satu itu.
            “Taruhannya, kalau lo menang gue beliin es krim strawberry kesukaan lo. Dan kalau gue yang menang…. Kita pacaran!” jelas Dio membuat Tita kaget.
            “Haha lucu ya! Dan akhirnya gue yang menang. Tapi lo curang karena lo nggak mau jadi pacar gue. Eh lo malah kabur.” Ucap Dio lagi.
            Tita masih diselimuti kesunyian. Dia baru ingat kejadian itu. Tita nggak mau menerima taruhan itu karena mereka masih kecil. Tita sayang Dio. Dari dulu, bahkan sampai sekarang. Dio nggak pernah tau bahwa Tita masih menyayanginya.
            Beberapa lama kemudian Dio pulang kerumahnya. Tita senang bisa sedekat itu lagi dengannya. Tapi dia takut. Dia takut rasa sayangnya semakin bertambah pada Dio. Dia pikir, kalau Ia mengungkapkan semuanya, dia akan kehilangan Dio dan Tita nggak mau semua itu terjadi.


****

            Dari kejauhan, Tita melihat Maura di tempat duduk dekat kelas mereka. Tita menghampiri Maura yang tengah melamun.
            “Ra, lo ngapain disini?” Tanya Tita.
            “Ta…” kata Maura. Suaranya bergetar. “Dio, Ta. Dio! Dia kayaknya lagi suka sama orang lain deh” tambahnya, dan akhirnya tangis Maura memecah.
            “Hah? Kok lo bisa bilang gitu, Ra?” Tita sedikit kaget. Dalam hatinya, dia juga kecewa dan penasaran.
            “Iya. Hpnya nggak aktif. Dia berubah jadi cuek banget sama gue, Ta. Kemarin malam, dia bilang mau ke rumah teman kecilnya. Gue nggak tau itu siapa.” Curhat Maura sejadinya.
            Tita terbengong dan pikirannya langsung menuju malam itu. Malam dimana dia dan Dio melihat bintang dirumah Tita dan mengenang masalalu mereka berdua. Lalu, apakah perempuan yang dimaksud Maura adalah dirinya? Entahlah, Tita bingung. Bisa saja setelah main kerumahnya, Dio pergi kerumah temannya yang lain? Kalau saja perempuan yang dimaksud Maura adalah dirinya……
            Sepulang sekolah, Tita masih memikirkan cerita Maura yang tadi. Sejujurnya, Tita penasaran. Ada apa dengan Dio? Sejauh inikah sekarang jarak antara mereka berdua sehingga Dio sudah tak pernah menceritakan lagi semua masalah-masalahnya? Tita tau ini bukan sepenuhnya salah Dio. Tita yang menjaga jarak antara mereka berdua. Tita nggak mau rasa cinta nya dengan Dio tumbuh semakin besar. Tita takut menyakiti perasaan Maura, sahabatnya.
            I’m at the payphone trying to call home all of my change I spent on you. Hp Tita bordering. Dilihatnya nama penelepon. Dio!!! Di otaknya berbagai pertanyaan muncul. Ada apa Dio menelepon Tita?
            “Halo, Ta. Ada dirumah nggak?” Tanya Dio.
            “Hmm, ada. Memangnya kenapa, Yo?” Tanya Tita penasaran.
            “Oke, gue ke rumah lo 15 menit lagi ya. Siap-siap sana, dandan yang rapi!” kata Dio. Telepon ditutupnya tanpa Tita jawab ajakan Dio. Ini semua semakin membuat Tita bingung.
            Tita membuka lemarinya. Dia bingung mau memakai pakaian apa karena dia sendiri tidak tau Dio akan membawanya kemana. Akhirnya Tita memutuskan untuk memakai celana jeans panjang dengan atasan kaos polos tanpa lengan dan rompi pendek sedada sebagai pelengkap. Dan tidak lupa memakai ikat rambut pitanya.

Dio bilang, dia akan mengajak Tita ke sebuah tempat. Dio juga bilang kalau ia akan menceritakan semuanya ke Tita. Tita nggak mengerti apa yang Dio maksud. Yang jelas, sekarang seperti biasa Tita sedang menyembunyikan bunyi detak jantungnya yang cepat bila dekat dengan Dio. Akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah mall yang cukup terkenal di Jakarta. Mereka menuju ke tempat permainan Time Zone yang berada disana. “Ta, main pump dulu yuk!” ajak Dio. Dio memang dari dulu sangat suka bermain pump. Dia juga sangat jago dalam permainan itu. Bila sedang bermain, dia bisa lupa waktu. Tetapi, semenjak masuk SMA dia sudah jarang bermain permainan itu.
Selagi Dio berloncat-loncatan dengan musik yang mengiringinya, Tita hanya memperhatikan sambil tertawa memberi semangat pada Dio. Tita menolak ajakan Dio saat ditantang melawannya. Tita dari dulu memang nggak bisa permainan yang satu itu. Tapi bila mereka sedang berada disana, Tita selalu menantang Dio balapan motor-motoran. Tita selalu menang, padahal dia tidak bisa mengendarakan motor.
Selesai ke tempat bermain, mereka menuju ke sebuah restoran yang ada di lantai dua. “Ta, lo mau pesan apa?” Tanya Dio sambil melihat-lihat buku menu. “Terserah lo aja deh, Yo. Asal jangan makanan yang berat ya, soalnya tadi gue udah makan dirumah.” Jawab Tita.
Akhirnya pesanan mereka datang, yaitu sepiring salad buah dan jus strawberry untuk Tita juga sepiring nasi goreng seafood dan segelas jus mangga untuk Dio. “Ta, cobain deh nasi goreng gue. Enak banget.” Tawar Dio sambil mau menyuapi Tita. “Iya enak, Yo. Tapi lo harus cobain salad buah gue juga. Sehat lho!” ucap Tita sambil balik menyuapi Dio. Mereka menikmati makanan sambil bercanda dan Tita seringkali dibuat tertawa oleh Dio dengan cerita konyol Dio.
            Sehabis makan, mereka ke tempat duduk yang disediakan di dekat arena bermain. “Ta… Gue mau cerita sma lo tentang satu hal.” Kata Dio. Tita melihat ke wajah Dio. Dio terlihat menatap Tita serius, seperti ada hal penting yang harus dibicarakan.
            “Sejujurnya, ini udah lama pengen gue ceritakan ke lo, Ta. Gue nggak mau simpan semua ini sendirian dari lama banget, Ta. Lo harus tau satu hal, kalau….” Dio menghentikan bicaranya. Dia semakin menatap ke arah Tita. Seakan-akan dia melihat sosok yang dulu pernah menjadi sahabat sekaligus cinta pertamanya. Tita memang masih sama seperti yang dulu, begitupun dengan Dio. Tak ada yang berubah dari keduanya. Hanya saja perasaan sayang mereka semakin bertambah dari waktu ke waktu. Tanpa mereka tau satu sama lain.
            Tita masih menunggu Dio untuk melanjutkan ceritanya. “Gue sayang sama lo, Ta.” Lanjut Dio. Tita hanya sedikit bahagia.Dia tau Dio sahabat Tita dari kecil, pasti Dio menyayangi Tita sama seperti dirinya pada Dio. “Iya, gue tau Yo. Gue juga sayang sama lo. Kan lo sahabat gue dari kecil.” Balas Tita.
            “Tapi, Ta. Rasa sayang gue ke elo tuh beda. Gue sayang sama lo sebagai sahabat dan juga sebagai cinta pertama gue. Gue pengen lo tau, kalau gue mau lo jadi milik gue, Ta. Dari dulu gue pengen jujur sama lo tentang hal ini. Tapi gue takut lo malah menjauh dari gue dan ini semua akan merusak persahabatan kita.” Jelas Dio.
            Deg!!!! Jantung Tita mulai berdegup tak mengikuti irama. Kali ini, jantungnya berdetak lebih kencang. Bahkan Tita yakin Dio bisa mendengar bunyi detak jantungnya ini.
            “Terus, gimana hubungan lo sama Maura?” Tanya Tita. Jujur saja, Tita bingung mau menanggapi pengakuan Dio. Semua yang Dio katakan, semua yang Dio rasakan, semuanya sama seperti apa yang dirasakan Tita. Rasanya Tita mau menangis dalam hati. Lidahnya kaku membeku. Angin seakan bertiup sejuk ke arah Tita sehingga membuat bulu kuduknya merinding.
            “Jujur, waktu pertama kali lo ngenalin gue sama dia dan lo bilang kalau dia suka sama gue, gue ngerasa biasa aja sama dia. Dan jujur, gue sedikit kecewa sama lo. Padahal gue baru mau jujur sama lo tentang perasaan gue. Tapi, setelah kejadian itu gue pikir kalau lo nggak ada perasaan apapun ke gue kecuali sayang sebagai sahabat.” Jelas Dio, lagi.”
            Tita semakin merinding mendengar semua kata-kata Dio barusan. Dia sedih karena dihadapi dengan kenyataan yang sulit. Dia nggak mau menyakiti dan mengecewakan sahabatnya, Maura. Tapi di sisi lain, dia senang karena ternyata Dio mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.

Mengapa dua manusia yang selama ini saling menyayangi dan mencintai, tak diizinkan untuk bersama?  
Begitulah jeritannya dalam hati.

            “Maaf, Yo kalau gue mengecewakan elo. Tapi semua yang lo bilang tentang perasaan gue tadi benar. Gue nggak punya perasaan apapun sama lo kecuali sayang sebatas sahabat kecil. Gue mohon jangan buat Maura kecewa.” Ujar Tita. Tita berdiri meninggalkan Dio yang terdiam di tempat yang sama. Dia berjalan tak tau arah. Pokoknya dia harus pergi kemanapun asalkan nggak ketemu Dio. Melihat Dio hanya membuatnya sakit hati. Dia tau mereka nggak akan bisa bersama. Dia ingin segera menemukan tempat sepi, dimanapun itu asalkan dia bisa mengeluarkan rasa sesaknya yang sedari tadi tertahan di dadanya.
            Akhirnya dia memutuskan untuk pulang naik Taxi. Dia langsung menuju kamarnya. Hanya disana dia bisa mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam. Hujan rintik diluar tak seberapa dibanding pecah tangis di mata indahnya. Mengapa dua manusia yang selama ini saling menyayangi dan mencintai, tak diizinkan untuk bersama? Begitulah jeritannya dalam hati.

****

            Esok hari di sekolah, Tita hanya mengurung diri dikelas. Ditawarinya makan apapun oleh Maura, Adit juga temannya yang lain, dia tetap menolak. Yang dia pikirkan saat ini Cuma satu; Dia nggak boleh mau kehilangan salah satu dari kedua sahabatnya, yaitu Maura dan Dio.
            Sepulang sekolah, ia melihat Dio dari kejauhan. Tampaknya Dio juga sedng menatap Tita dengan penuh perhatian. Dengan terpaksa Tita membuang muka. Kalau boleh dia jujur, dia sangat sedih atas keadaan ini. Keadaan dimana ia harus pintar menyembunyikan perasaannya.
            Dua hari kemudian, Maura memanggil Tita dari kejauhan. Dilihatnya ke belakang, Maura memasang wajah serius. Jangan-jangan Maura sudah tau tentang yang sebenarnya.. kata Tita dalam hatinya.
            “Ta, gue udah tau semuanya kok. Dio udah cerita semuanya sama gue.” Ucap Maura singkat. Tita sedang berada diambang kecemasan.
            “Jadi….Gue mohon,Ra. Lo jangan marah sama gue ataupun Dio. Ini salah gue, Ra. Gue minta maaf.” Kata Tita dengan nada sedikit menyesal.
            “Hmm.. Lo nggak salah, Ta. Justru gue yang harusnya minta maaf sama lo. Kalau gue tau dari awal sebenarnya elo sama Dio tuh dulu saling sayang dan lo berdua sahabat dari kecil, gue mungkin nggak bakal minta lo kenalin sama dia, Ta.” Jelas Maura, yang juga bernada menyesal. “Ta… Kalau memang lo berdua saling sayang, gue ikhlas kok lo berdua bersama.” Ucap Maura, lagi. Air mata Tita menetes setelah tertahan dipelupuk matanya.
            “Maura, Tita!” panggil Dio yang menghampiri dibelakang mereka.
            “Ta.. Yo..” kata Maura sambil memegang tangan mereka berdua. Lalu disatukannya. “Gue nggak mau jadi penghalang diantara kalian.” Ucap Maura, lagi.
            Keheningan panjang terjadi. Tita hanya bisa menunduk untuk menahan air matanya yang jatuh semakin deras. Dio hanya bisa terdiam melihat keduanya. Maura yang memalingkan wajah ke sampingnya, dia tak ingin air matanya diketahui oleh Tita dan Dio.
            “Gue nggak bisa, Ra. Dio sayang sama lo. Lo sayang sama dia. Gue cuma bagian dari masalalu Dio. Gue cuma sahabatnya Dio. Nggak lebih. Lagipula gue udah punya pacar.” Kata Tita, sambil tersenyum pahit. Disatukannya telapak tangan Dio dan Maura.
            “Siapa?” Tanya Maura dan Dio secara bersamaan. Lalu mereka saling bertatapan.
            “Adit!” kata Tita, yang bersamaan dengan lewatnya Adit dibelakang mereka. Lalu Tita menggandeng tangan Adit didepan Maura dan Dio. “Iya kan, sayang?” kata Tita pada Adit, yang tak lama kemudian mereka meninggalkan Maura dan Dio berdua yang sedang bertatapan bingung sambil mengangkat bahu.
            Adit dan Tita ke suatu tempat yang dimana Tita bisa mengeluarkan segalanya. Tangisan, teriakan, emosi, kesedihan, dan kemudian melegakan hatinya. Adit langsung mengajaknya ke taman belakang sekolah yang mereka pernah kunjungi berdua. Disana, Tita menangis sejadinya. Dia ceritakan semuanya dari awal pada Adit sampai ia benar-benar lega.
            Adit mengerti. Perempuan yang ia sayangi sedang butuh bantuan. Dia mau ngebantuin apa saja yang ia mampu agar Tita merasa lebih baik. Dia nggak mengharapkan apapun, dia ikhlas. Tita masih menangis sejadinya. “Ta, maaf gue nggak bermaksud apa-apa. Tapi daripada lo nangis kayak gitu, gue juga nggak tega ngeliatnya. Mending lo nangis disini aja.” Ucap Adit sambil memegang dadanya. Tita melihat ketulusannya. Dia lantas menyandarkan kepalanya dipelukan Adit. Adit tidak tega melihat orang yang ia sayang berlarut dalam kesedihan.
            Setelah beberapa lama, Tita menghentikan tangisannya. Tampaknya perasaannya mulai lega dan merasa lebih baik. “Makasih ya, Dit. Gue udah lebih baik sekarang.” Ucap Tita sambil tersenyum. Dilihatnya bawah mata Tita yang tampang bengap. “Sama-sama, Ta. Udah jangan nangis lagi. Jelek lo kalau nangis. Hehehe” ujar Adit dengan nada bercanda.
            “Dit, gue boleh minta tolong nggak sama lo?” Tanya Tita. “Minta tolong apa?” kata Adit bingung. “Hmm, lo mau kan berpura-pura jadi pacar gue? Ini demi hubungan Dio dan Maura. Biar Maura sangka gue baik-baik aja. Padahal sih emang iya hehehe.” Kata Tita. “Maaf, Ta. Kalau yang satu itu gue nggak bisa.” Tolak Adit. “Iya gapapa kok, Dit. Gue ngerti, memang gue terlalu jahat untuk menjadikan lo pacar pura-pura gue.” Kata Tita dengan nada kecewa. “Gue nggak mau jadi pacar bohongan lo. Gue maunya jadi pacar beneran lo. Gimana? Lo mau nggak?” tawar Adit. “Mau!!” kata Tita dengan semangatnya. Tanpa disadari Tita memeluk Adit. Kabar bahagia ini diketahui oleh seluruh anak-anak dikelas dan mereka turut bahagia atas berita ini.
Memang dari dulu Adit dan Tita seringkali menjadi bahan ledekan satu kelas. Mereka memang pasangan yang serasi. Cuma Tita saja yang tidak menyadari betapa tulusnya Adit. Tita memang masih sayang dengan sahabat kecilnya, cinta pertamanya, dan semua kenangan-kenangan saat bersama Dio. Tapi itu dulu. Sekarang, ia hanya menganggap Dio sebagai masalalu dan bagian dari hidupnya. Walaupun terkadang Tita suka kangen dengan masa-masa itu. Dia masih sayang Dio sebagai sahabatnya. Dio masih ada dalam hati Tita, dalam lubuk hatinya yang paling dasar. Tapi Tita sadar, dulu adalah dulu. Dia ingin memulai dari hal yang baru dengan Adit.
Maura dan Dio balikan. Dio janji pada dirinya sendiri kalau dia akan menganggap Tita sebagian dari masalalunya, seperti yang Tita lakukan. Dia akan menyayangi Maura dan tidak menyia-nyiakannya. Walaupun dalam lubuk hatinya yang paling dasar ia masih menyimpan nama teman kecilnya yang juga cinta pertamanya, sama seperti Tita.





-SELESAI-










     Karya: Nadya Rachma Ayu

Jiwa Yang Hampa



Diam
Bersandar pada pohon tua nan rindang
Terpaan angin sejuk menyapanya
Dia masih terdiam membisu
Menatap nanar dalam elegi
Dalam dimensi waktu dan ruang, ia masih menunggu
Entah apa dan siapa yang ditunggu
Hatinya mati ditelan bumi
Perasaannya hancur berkeping-keping
Mataharinya kini telah pergi
Terang di ujung sana bersama awan
Meninggalkan badai dan kelabu di hidupnya
Dia berjalan sejauh mungkin
Mengikuti arah angin berlalu
Hanya ada raga yang tersisa
Jiwanya hilang entah kemana



                                                Nadya Rachma Ayu