Dio,
Dio, Dio, Dio lagi. Tita sebal dengan nama itu. Orangnya juga, selalu ada di
mimpi Tita. Tita sebal karena harus bertemu setiap pagi dengan Dio. Tita sebal
harus melupakan senyum manis Dio. Tita sebal harus melupakan kenangan manisnya
dengan Dio di masa kecil. Bukan, bukan karena Dio yang salah, bukan karena Dio
yang sengaja bikin Tita jatuh cinta dengannya, bukan salah Dio yang ganteng dan
baik hati juga. Tapi, karena Dio pacarnya Maura, sahabat Tita.
Pagi
itu, Tita bersiap-siap berangkat sekolah. Setelah sarapan dan pamit dengan Mama
dan Papa, seperti biasa Tita berselingan dengan Dio yang juga ingin berangkat
sekolah. Dio yang rumahnya berada di dua rumah sebelah kanan setelah rumah
Tita, selalu melewati rumah Tita bila berangkat sekolah. Dio tersenyum hangat
pada Tita sambil menaikkan satu alis tebalnya. Itu ciri khas Dio yang nggak
bisa Tita lupakan. Dengan menaiki motor besar, memakai jaket denim dan helm
kesayangan Dio, Dio seringkali mengajak Tita berangkat sekolah bareng. Tetapi
Tita selalu menolak ajakan Dio dengan sopan.
“Ta,
bareng yuk! Udah jam segini, nungguin bus lama. Daripada lo telat” Ajak Dio, yang
membuka kaca helm dengan gantengnya.
“Enggak deh Yo, lo duluan aja” tolak
Tita sopan.
“Yee, masa gue tega ngeliat sahabat
gue di hukum hormat tiang bendera gara-gara telat?” ajaknya sekali lagi.
“Hmm, yaudah deh” jawab Tita yang
akhirnya menerima ajakan Dio. Itu kali pertama Tita mau menerima tawaran Dio.
“Ta, pegangan yang kuat ya. Gue mau
ngebut” kata Dio yang memecahkan lamunan Tita. Dipegangnya besi belakang motor
Dio dengan kuat. Karena kesiangan, Tita lupa menguncir rambutnya yang sebahu.
Biasanya dia selalu mengikat rambut indahnya dengan pita kesayangannya. Alhasil
rambut Tita berterbangan ditiup angin. Dan mata Tita kelilipan debu. Refleks
dia melepas tangan untuk mengucek matanya yang gatal. Dio yang tiba-tiba
menggas motornya mendadak membuat Tita jadi tak seimbang. Dengan refleks pula
Tita menarik jaket Dio sehingga bahu Tita maju menempel dengan punggung Dio.
Sekejap sepersekian detik, Tita langsung mengubah kembali posisi duduknya. Dio
tahu Tita tidak sengaja. Kejadian itu sukses membuat Tita malu dan salah
tingkah. Dalam hatinya menggerutu kesal dengan sikap konyolnya itu. “Aduh, bego
banget sih gue! Pasti Dio pikir gue yang sengaja deh!” gerutu Tita dalam hati.
Sesampainya di sekolah, Tita
cepat-cepat turun dari motor. “Yo, makasih ya.” Ucap Tita singkat. Lalu dia
membalikkan tubuh untuk segera pergi ke kelas. Dia berharap Dio mau melupakan
kejadian tadi pagi di jalan. “Ta…” panggil Dio, masih disamping motornya. Tita
menghentikan langkahnya. Bagai patung bernyawa, dia diam di tempat. “Gue senang
kita bisa deket gini. Kayak dulu lagi.” Ungkap Dio. Jantung Tita berdegup
kencang. Tita menengokkab wajahnya dan tersenyum pada Dio. Ya, hanya itu yang
dapat Tita berikan. Andai Dio tahu, bahwa dia juga sangat senang bisa sedekat
itu lagi dengan Dio, sahabat kecilnya.
“Hai Titaaa!”
sapa Adit.
“Dit, ngapain dibangku Maura? Maura
mana?” Tanya Tita sinis tanpa membalas sapa Adit.
“Pagi-pagi udah jutek aja, Non. Tuh
Maura lagi piket.” Jawabnya. Seketika Maura datang.
“Cie kalian pagi-pagi udah berduaan
aja.” Ledek Maura.
“Apaan sih, Ra? Minggir Dit, gue mau
duduk sama Maura!” perintah Tita. Dengan wajah kecewa, Adit bangun dan kembali ke
tempat duduknya. “Eh Ta, kok elo jutek banget sih sama dia? Dia kan udah baik
banget sama elo. Dari awal masuk sekolah sampai sekarang dia masih suka banget
sama elo.” Jelas Maura.
“Tapi kan gue gak suka sama dia, Ra”
jawabnya singkat.
“Lo nggak suka dia bukan berarti lo
harus jutekin dia kan, Ta?” kata Maura. Tita hanya terdiam dan menengok ke arah
tempat duduk Adit. Benar juga ya kata
Maura. Apa salahnya bersikap baik sama orang yang udah baik juga sama kita…
Gumam Tita dalam hati.
“Gue
senang kita bisa dekat gini.
Kayak
dulu lagi.” Ungkap Dio. Jantung Tita berdegup kencang.
Pada jam
pelajaran fisika, Tita teringat kejadian tadi pagi. Dio, yang notabene nya
hanya sekadar teman kecil Tita, berhasil membuat Tita jatuh cinta dengannya.
Dio yang dulu selalu membela Tita bila dia dijahili teman-temannya. Dio yang
selalu memanggil Tita dengan panggilan khusus ‘Ribbon’-nya. Iya, Dio memanggil
Tita dengan nama itu karena Tita sangat suka memaki pita. Di kamar Tita, banyak
sekali koleksi pita yang Tita punya. Bahkan wallpaper dinding kamar Tita
bermotif pita. Tapi, semenjak kejadian itu dan karena Tita ingin melupakan
semua yang pernah terjadi antaranya dan Dio, dia tidak pernah lagi memakai
pita. Walaupun sampai kini dia masih menyimpan rasa itu dalam-dalam. Dan Tita
kangen masa-masa kecilnya dulu.
“Titania Elyza!” bentak bu Riana,
guru fisika yang dikenal paling killer satu
sekolah. Seketika Tita kaget dan satu kelas memandangi dirinya.
“I..Iya bu. Ada apa?” pertanyaan
yang bodoh bagi Bu Riana.
“Ada apa kamu bilang? Berani sekali
kamu melamun pada jam pelajaran saya. Sekarang silakan kamu keluar dari kelas
ini sampai jam pelajaran saya habis.” Hardik Bu Riana dengan nada tingginya.
Dengan perasaan malu dan menyesal, Tita keluar dari kelasnya.
“Ta!!!” panggil seseorang jauh
dibelakang Tita. Seketika Tita menengok ke belakang.
“Lo ngapain disini?” Tanya Tita
heran.
“Mau nemenin elo.” Jawab Adit.
“Hah?” Tita terperangah kaget. Adit
sengaja makan snack dikelas yang pastinya suara renyah dari snack tersebut
membuat Bu Riana mengusirnya dari kelas juga. Tita dan Adit duduk berdua di
anak tangga ketiga paling bawah yang tidak jauh dari ruang kelas mereka.
Hening. Sunyi. Setidaknya itu yang Tita rasakan sekarang.
Adit duduk dengan kedua tangannya
yang bersimpuh memeluk lutut. Dagunya berada menempel diatas lutu. Sambil
menengokkan wajahnya ke arah Tita. Tita yang sedari tadi terdiam, seketika
kaget melihat Adit sedang menatapi dirinya. Tita salah tingkah. “Dit!” ujar
Tita untuk menyadarkan Adit, yang masih sibuk menatapi dirinya. “Hei, Dit! Lo kenapa sih?” Tanya Tita yang
akhirnya menyadarkan Adit karena Tita juga memukul pelan lengan Adit.
“Hah! Kenapa, Ta?” Tanya Adit yang
membuat Tita semakin heran.
“Lo kenapa? Sakit ya?” Tanya Tita
lembut. Baru pertama kalinya Tita selembut itu pada Adit.
“Gapapa kok, Ta. Makasih ya” ucap
Adit berbinar.
“Ayo ke kelas, Dit! Kayaknya jam
pelajaran Bu Riana udah abis tuh!” ajak Tita.
“Nanti ya, Ta. Ikut gue yuk!” ajak
Adit balik.
“Mau kemana…” belum selesai Tita
bertanya, Adit menarik lengan Tita lembut. Adit membawa Tita ke taman belakang
sekolah mereka. Dengan masih memegangi lengan Tita, dia mengajaknya duduk di
sebuah bangku kayu panjang dengan ditengahnya banyak tanaman mawar merah dan
bunga matahari.
“Dit, sejak kapan sekolah kita punya
taman seindah ini?” Tanya Tita yang masih terperangah melihat pemandangan
disekitarnya.
“Serius lo belum pernah kesini?
Berarti ini pertama kalinya, dong? Dan sama gue? Hehe” kata Adit sambil sedikit
menyengir.
“Iya. Gue kira bakal ada apaan sih
di belakang sekolah kita. Paling cuma pepohonan dan dedaunan kering.” Ujar
Tita, masih melihat-lihat sekitarnya.
Keheningan menyelimuti kedua orang
tersebut. Siang itu, matahari terasa begitu menyengat. Tetapi tidak bagi Adit
dan Tita. Dibawah pohon yang rindang, mereka tertutupi oleh panasnya matahari.
Lagi, Adit menatap wajah Tita dengan penuh perhatian. Entah apa tujuan dan
maksud dari tatapan itu. Baginya, duduk berdua Tita dengan jarak sedekat ini
adalah momen terindah. Hanya berdua.
“Eh, Dit. Udaranya sejuk ya. Gue
jadi ngantuk” ujar Tita sambil menguap, ditengah keheningan. Tita menengok ke
teman sebelahnya yang sedang menatapi dirinya. “Adit! Kebiasaan banget sih lo.
Lama-lama gue pasang tarif juga nih ya buat yang suka tatap gue kayak gitu.
Risih tau!” keluh Tita. Adit hanya tersenyum dan mengajaknya kembali ke kelas.
Di perjalanan ke kelas, mereka berdua lebih banyak diam. Tita masih bingung
dengan sikap Adit yang biasanya aktif, menjadi lebih pendiam seperti itu.
****
“Eh, lo abis
dari mana sih? Pelajaran fisika udah abis daritadi tau! Jangan-jangan lo
berdua….” Ujar Maura sesaat ketika Tita baru duduk ditempatnya.
“Apaan sih, Ra? Gue nggak abis dari
mana-mana kok” jawab Tita, bohong.
Tita nggak mungkin jujur sama
siapapun kalau dia abis ke taman berdua dengan Adit. Sebenarnya nggak ada
salahnya kalau dia menerima tawaran Adit untuk menjadi pacarnya. Adit ganteng
kok! Ramah, baik, lumayan pintar juga. Adit udah berkali-kali nembak Tita. Tapi
Tita belum bisa menerima Adit. Andai Tita bisa. Bisa melupakan dan melepas Dio
dengan senang hati. Mungkin dia mau ngebuka hati buat Adit. Sayangnya, Tita
belum bisa.
“Hai, Ta” sapa Dio didepan kelas
Tita.
“Hai juga, Yo! Mau cari Maura, ya?
Ada tuh didalam kelas, masuk aja!” balas Tita masih sambil mendengarkan mp3
dengan headsetnya.
“Iya, Ta. Hm, nanti malam ada
dirumah nggak, Ta? Tanya Dio.
“Ada, kenapa Yo?” jawab Tita melepas
headset.
“Oke, nanti gue ke rumah lo ya!”
ujar Dio, tersenyum manis sambil sesaat pergi masuk ke dalam kelas Tita untuk
menemui Maura, pacarnya. Hah? Dio mau ke
rumah gue? Ngapain? Gumamnya dalam hati.
Tita yang sedari tadi duduk sendiri
di dekat pintu kelas melirik ke arah Dio dan Maura sedang duduk berdua. Mereka
terlihat serasi. Tita senang bisa memperkenalkan Maura dengan orang yang Maura
suka. Sampai akhirnya mereka berpacaran. Tita senang melihat kedua orang yang
Tita sayang bahagia.
****
“Taaaa, ada Dio tuh di bawah”
panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Tita. Dia segera keluar kamar menemui
Dio. Entah sudah berapa lama Dio tak pernah main ke rumah Tita lagi. Hanya bila
ada keperluan penting saja Dio ke rumah Tita, sebentar. Dengan hanya memakai
celana jeans selutut dan kaos biru berkerah santai, Tita menemui Dio yang
tengah mengobrol dengan Papa Tita.
“Hai, Ta!” sapa Dio. “Nah, itu Tita.
Om tinggal dulu ya, Dio.” Kata Papa Tita pada Dio. “Oh, iya om. Makasih
ngobrol-ngobrolnya, Om” kata Dio. Papa Tita meninggalkan mereka berdua.
“Ada apa, Yo? Tumben kesini.” Tanya
Tita.
“Hah! Emang gue jarang banget kesini
ya sampai lo bilang gitu?” Tanya Dio heran. Tita merasa nggak enak hati atas
pertanyaannya tadi.
“Eh, bukannya gitu. Tapi….”
“Ta, ajak gue ke atap rumah lo dong.
Gue pengen ngerasain angin malam dari sana nih!” potong Dio.
“Yaudah, yuk!” tanpa basa-basi, Dio
dan Tita segera menuju ke atap rumah Tita. Dulu, mereka sering banget main
disana. Tiduran berhadapan langsung dengan langit, memandangi dan menghitung
banyaknya bintang diatas sana.
Setibanya disana, Dio berdiri dan
menarik napas dalam-dalam. Tita masih tidak mengerti maksud Dio mengajaknya
kesini.
“Ta, lo masih ingat kan kalau dulu
kita sering banget kesini. Hitung bintang yang ada di langit. Main layang-layang
berdua. Lo dulu juga pernah ketiduran disini, kan? Untung ada gue yang jagain.
Kalau nggak ada gue, lo bisa jatuh dari sini, Ta. Hahaha” jelas Dio, masih
sambil tiduran memandangi langit dan tersenyum hangat.
Tita yang sedari tadi terdiam, kini
merebahkan tubuhnya disamping Dio. Tita ingat masa-masa itu. Semua tentang masa
kecilnya bersama Dio, nggak akan bisa dia lupakan.
“Oh iya! Lo ingat nggak pas gue
ngerjain lo dengan gue tumpahin air di lantai rumah lo dan alhasil lo
kepeleset. Lo nangis nggak berhenti-berhenti. Ternyata jari kaki lo kesleo dan
gue dimarahin abis-abisan sama orang tua gue. Lo tau nggak, mulai dari situ gue
berjanji satu hal sama diri gue sendiri.” Ujar Dio, masih sambil memandangi
langit.
Tita tersenyum malu mendengar cerita
Dio. Dia ingat betul kejadian demi kejadian 11 tahun lalu. Tita terperangah
menengok ke arah Dio saat mendengar ucapan terakhirnya itu.
“Gue janji sama diri gue sendiri,
kalau gue bakal jagain lo selamanya, Ta.” Lanjut Dio. Jantung Tita bagai
disambar petir. Degupnya melebihi saat pertama kali Tita dan Dio naik wahana
halilintar di Dufan.
“Ta, lo ingat nggak waktu itu kita
juga pernah taruhan sesuatu. Haha konyol banget ya taruhannya.” Tambah Dio.
Untuk yang satu itu, Tita sedikit lupa. Tita masih sibuk menyembunyikan keras
degup jantungnya. Ia takut Dio dapat mendengarnya.
“Taruhan apa, Yo? Gue agak lupa
hehe” Tanya Tita.
“Lo lupa? Itu lho yang kita tebak
berapa banyak bintang yang terlihat di langit. Lo pilih ganjil dan gue genap.
Dan akhirnya gue yang menang haha” jelas Dio.
“Dan lo ingat nggak taruhannya apa?”
lanjut Dio.
Tita hanya menggeleng. Dia
benar-benar lupa dengan hal yang satu itu.
“Taruhannya, kalau lo menang gue
beliin es krim strawberry kesukaan lo. Dan kalau gue yang menang…. Kita
pacaran!” jelas Dio membuat Tita kaget.
“Haha lucu ya! Dan akhirnya gue yang
menang. Tapi lo curang karena lo nggak mau jadi pacar gue. Eh lo malah kabur.”
Ucap Dio lagi.
Tita masih diselimuti kesunyian. Dia
baru ingat kejadian itu. Tita nggak mau menerima taruhan itu karena mereka masih
kecil. Tita sayang Dio. Dari dulu, bahkan sampai sekarang. Dio nggak pernah tau
bahwa Tita masih menyayanginya.
Beberapa lama kemudian Dio pulang
kerumahnya. Tita senang bisa sedekat itu lagi dengannya. Tapi dia takut. Dia
takut rasa sayangnya semakin bertambah pada Dio. Dia pikir, kalau Ia
mengungkapkan semuanya, dia akan kehilangan Dio dan Tita nggak mau semua itu
terjadi.
****
Dari kejauhan, Tita melihat Maura di
tempat duduk dekat kelas mereka. Tita menghampiri Maura yang tengah melamun.
“Ra, lo ngapain disini?” Tanya Tita.
“Ta…” kata Maura. Suaranya bergetar.
“Dio, Ta. Dio! Dia kayaknya lagi suka sama orang lain deh” tambahnya, dan
akhirnya tangis Maura memecah.
“Hah? Kok lo bisa bilang gitu, Ra?”
Tita sedikit kaget. Dalam hatinya, dia juga kecewa dan penasaran.
“Iya. Hpnya nggak aktif. Dia berubah
jadi cuek banget sama gue, Ta. Kemarin malam, dia bilang mau ke rumah teman
kecilnya. Gue nggak tau itu siapa.” Curhat Maura sejadinya.
Tita terbengong dan pikirannya
langsung menuju malam itu. Malam dimana dia dan Dio melihat bintang dirumah
Tita dan mengenang masalalu mereka berdua. Lalu, apakah perempuan yang dimaksud
Maura adalah dirinya? Entahlah, Tita bingung. Bisa saja setelah main
kerumahnya, Dio pergi kerumah temannya yang lain? Kalau saja perempuan yang
dimaksud Maura adalah dirinya……
Sepulang sekolah, Tita masih
memikirkan cerita Maura yang tadi. Sejujurnya, Tita penasaran. Ada apa dengan
Dio? Sejauh inikah sekarang jarak antara mereka berdua sehingga Dio sudah tak
pernah menceritakan lagi semua masalah-masalahnya? Tita tau ini bukan
sepenuhnya salah Dio. Tita yang menjaga jarak antara mereka berdua. Tita nggak
mau rasa cinta nya dengan Dio tumbuh semakin besar. Tita takut menyakiti
perasaan Maura, sahabatnya.
I’m
at the payphone trying to call home all of my change I spent on you. Hp
Tita bordering. Dilihatnya nama penelepon. Dio!!! Di otaknya berbagai
pertanyaan muncul. Ada apa Dio menelepon Tita?
“Halo, Ta. Ada dirumah nggak?” Tanya
Dio.
“Hmm, ada. Memangnya kenapa, Yo?”
Tanya Tita penasaran.
“Oke, gue ke rumah lo 15 menit lagi
ya. Siap-siap sana, dandan yang rapi!” kata Dio. Telepon ditutupnya tanpa Tita
jawab ajakan Dio. Ini semua semakin membuat Tita bingung.
Tita membuka lemarinya. Dia bingung
mau memakai pakaian apa karena dia sendiri tidak tau Dio akan membawanya
kemana. Akhirnya Tita memutuskan untuk memakai celana jeans panjang dengan
atasan kaos polos tanpa lengan dan rompi pendek sedada sebagai pelengkap. Dan
tidak lupa memakai ikat rambut pitanya.
Dio bilang, dia akan mengajak Tita ke
sebuah tempat. Dio juga bilang kalau ia akan menceritakan semuanya ke Tita.
Tita nggak mengerti apa yang Dio maksud. Yang jelas, sekarang seperti biasa
Tita sedang menyembunyikan bunyi detak jantungnya yang cepat bila dekat dengan
Dio. Akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah mall yang cukup terkenal di
Jakarta. Mereka menuju ke tempat permainan Time Zone yang berada disana. “Ta,
main pump dulu yuk!” ajak Dio. Dio
memang dari dulu sangat suka bermain pump.
Dia juga sangat jago dalam permainan itu. Bila sedang bermain, dia bisa lupa
waktu. Tetapi, semenjak masuk SMA dia sudah jarang bermain permainan itu.
Selagi Dio berloncat-loncatan dengan
musik yang mengiringinya, Tita hanya memperhatikan sambil tertawa memberi
semangat pada Dio. Tita menolak ajakan Dio saat ditantang melawannya. Tita dari
dulu memang nggak bisa permainan yang satu itu. Tapi bila mereka sedang berada
disana, Tita selalu menantang Dio balapan motor-motoran. Tita selalu menang,
padahal dia tidak bisa mengendarakan motor.
Selesai ke tempat bermain, mereka
menuju ke sebuah restoran yang ada di lantai dua. “Ta, lo mau pesan apa?” Tanya
Dio sambil melihat-lihat buku menu. “Terserah lo aja deh, Yo. Asal jangan
makanan yang berat ya, soalnya tadi gue udah makan dirumah.” Jawab Tita.
Akhirnya pesanan mereka datang, yaitu
sepiring salad buah dan jus strawberry untuk Tita juga sepiring nasi goreng
seafood dan segelas jus mangga untuk Dio. “Ta, cobain deh nasi goreng gue. Enak
banget.” Tawar Dio sambil mau menyuapi Tita. “Iya enak, Yo. Tapi lo harus
cobain salad buah gue juga. Sehat lho!” ucap Tita sambil balik menyuapi Dio.
Mereka menikmati makanan sambil bercanda dan Tita seringkali dibuat tertawa
oleh Dio dengan cerita konyol Dio.
Sehabis makan, mereka ke tempat
duduk yang disediakan di dekat arena bermain. “Ta… Gue mau cerita sma lo
tentang satu hal.” Kata Dio. Tita melihat ke wajah Dio. Dio terlihat menatap
Tita serius, seperti ada hal penting yang harus dibicarakan.
“Sejujurnya, ini udah lama pengen
gue ceritakan ke lo, Ta. Gue nggak mau simpan semua ini sendirian dari lama
banget, Ta. Lo harus tau satu hal, kalau….” Dio menghentikan bicaranya. Dia
semakin menatap ke arah Tita. Seakan-akan dia melihat sosok yang dulu pernah
menjadi sahabat sekaligus cinta pertamanya. Tita memang masih sama seperti yang
dulu, begitupun dengan Dio. Tak ada yang berubah dari keduanya. Hanya saja
perasaan sayang mereka semakin bertambah dari waktu ke waktu. Tanpa mereka tau
satu sama lain.
Tita masih menunggu Dio untuk
melanjutkan ceritanya. “Gue sayang sama lo, Ta.” Lanjut Dio. Tita hanya sedikit
bahagia.Dia tau Dio sahabat Tita dari kecil, pasti Dio menyayangi Tita sama
seperti dirinya pada Dio. “Iya, gue tau Yo. Gue juga sayang sama lo. Kan lo
sahabat gue dari kecil.” Balas Tita.
“Tapi, Ta. Rasa sayang gue ke elo
tuh beda. Gue sayang sama lo sebagai sahabat dan juga sebagai cinta pertama
gue. Gue pengen lo tau, kalau gue mau lo jadi milik gue, Ta. Dari dulu gue
pengen jujur sama lo tentang hal ini. Tapi gue takut lo malah menjauh dari gue
dan ini semua akan merusak persahabatan kita.” Jelas Dio.
Deg!!!! Jantung Tita mulai berdegup
tak mengikuti irama. Kali ini, jantungnya berdetak lebih kencang. Bahkan Tita
yakin Dio bisa mendengar bunyi detak jantungnya ini.
“Terus, gimana hubungan lo sama
Maura?” Tanya Tita. Jujur saja, Tita bingung mau menanggapi pengakuan Dio.
Semua yang Dio katakan, semua yang Dio rasakan, semuanya sama seperti apa yang
dirasakan Tita. Rasanya Tita mau menangis dalam hati. Lidahnya kaku membeku.
Angin seakan bertiup sejuk ke arah Tita sehingga membuat bulu kuduknya
merinding.
“Jujur, waktu pertama kali lo
ngenalin gue sama dia dan lo bilang kalau dia suka sama gue, gue ngerasa biasa
aja sama dia. Dan jujur, gue sedikit kecewa sama lo. Padahal gue baru mau jujur
sama lo tentang perasaan gue. Tapi, setelah kejadian itu gue pikir kalau lo
nggak ada perasaan apapun ke gue kecuali sayang sebagai sahabat.” Jelas Dio,
lagi.”
Tita semakin merinding mendengar
semua kata-kata Dio barusan. Dia sedih karena dihadapi dengan kenyataan yang sulit.
Dia nggak mau menyakiti dan mengecewakan sahabatnya, Maura. Tapi di sisi lain,
dia senang karena ternyata Dio mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.
Mengapa
dua manusia yang selama ini saling menyayangi dan mencintai, tak diizinkan
untuk bersama?
Begitulah jeritannya
dalam hati.
“Maaf, Yo kalau gue mengecewakan
elo. Tapi semua yang lo bilang tentang perasaan gue tadi benar. Gue nggak punya
perasaan apapun sama lo kecuali sayang sebatas sahabat kecil. Gue mohon jangan
buat Maura kecewa.” Ujar Tita. Tita berdiri meninggalkan Dio yang terdiam di
tempat yang sama. Dia berjalan tak tau arah. Pokoknya dia harus pergi kemanapun
asalkan nggak ketemu Dio. Melihat Dio hanya membuatnya sakit hati. Dia tau
mereka nggak akan bisa bersama. Dia ingin segera menemukan tempat sepi,
dimanapun itu asalkan dia bisa mengeluarkan rasa sesaknya yang sedari tadi
tertahan di dadanya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pulang
naik Taxi. Dia langsung menuju kamarnya. Hanya disana dia bisa mengeluarkan isi
hatinya yang selama ini terpendam. Hujan rintik diluar tak seberapa dibanding
pecah tangis di mata indahnya. Mengapa
dua manusia yang selama ini saling menyayangi dan mencintai, tak diizinkan
untuk bersama? Begitulah jeritannya dalam hati.
****
Esok hari di sekolah, Tita hanya
mengurung diri dikelas. Ditawarinya makan apapun oleh Maura, Adit juga temannya
yang lain, dia tetap menolak. Yang dia pikirkan saat ini Cuma satu; Dia nggak
boleh mau kehilangan salah satu dari kedua sahabatnya, yaitu Maura dan Dio.
Sepulang sekolah, ia melihat Dio
dari kejauhan. Tampaknya Dio juga sedng menatap Tita dengan penuh perhatian.
Dengan terpaksa Tita membuang muka. Kalau boleh dia jujur, dia sangat sedih
atas keadaan ini. Keadaan dimana ia harus pintar menyembunyikan perasaannya.
Dua hari kemudian, Maura memanggil
Tita dari kejauhan. Dilihatnya ke belakang, Maura memasang wajah serius. Jangan-jangan Maura sudah tau tentang yang
sebenarnya.. kata Tita dalam hatinya.
“Ta, gue udah tau semuanya kok. Dio
udah cerita semuanya sama gue.” Ucap Maura singkat. Tita sedang berada diambang
kecemasan.
“Jadi….Gue mohon,Ra. Lo jangan marah
sama gue ataupun Dio. Ini salah gue, Ra. Gue minta maaf.” Kata Tita dengan nada
sedikit menyesal.
“Hmm.. Lo nggak salah, Ta. Justru
gue yang harusnya minta maaf sama lo. Kalau gue tau dari awal sebenarnya elo
sama Dio tuh dulu saling sayang dan lo berdua sahabat dari kecil, gue mungkin
nggak bakal minta lo kenalin sama dia, Ta.” Jelas Maura, yang juga bernada
menyesal. “Ta… Kalau memang lo berdua saling sayang, gue ikhlas kok lo berdua
bersama.” Ucap Maura, lagi. Air mata Tita menetes setelah tertahan dipelupuk
matanya.
“Maura, Tita!” panggil Dio yang
menghampiri dibelakang mereka.
“Ta.. Yo..” kata Maura sambil
memegang tangan mereka berdua. Lalu disatukannya. “Gue nggak mau jadi
penghalang diantara kalian.” Ucap Maura, lagi.
Keheningan panjang terjadi. Tita
hanya bisa menunduk untuk menahan air matanya yang jatuh semakin deras. Dio
hanya bisa terdiam melihat keduanya. Maura yang memalingkan wajah ke
sampingnya, dia tak ingin air matanya diketahui oleh Tita dan Dio.
“Gue nggak bisa, Ra. Dio sayang sama
lo. Lo sayang sama dia. Gue cuma bagian dari masalalu Dio. Gue cuma sahabatnya
Dio. Nggak lebih. Lagipula gue udah punya pacar.” Kata Tita, sambil tersenyum
pahit. Disatukannya telapak tangan Dio dan Maura.
“Siapa?” Tanya Maura dan Dio secara
bersamaan. Lalu mereka saling bertatapan.
“Adit!” kata Tita, yang bersamaan
dengan lewatnya Adit dibelakang mereka. Lalu Tita menggandeng tangan Adit
didepan Maura dan Dio. “Iya kan, sayang?” kata Tita pada Adit, yang tak lama
kemudian mereka meninggalkan Maura dan Dio berdua yang sedang bertatapan
bingung sambil mengangkat bahu.
Adit dan Tita ke suatu tempat yang
dimana Tita bisa mengeluarkan segalanya. Tangisan, teriakan, emosi, kesedihan,
dan kemudian melegakan hatinya. Adit langsung mengajaknya ke taman belakang
sekolah yang mereka pernah kunjungi berdua. Disana, Tita menangis sejadinya.
Dia ceritakan semuanya dari awal pada Adit sampai ia benar-benar lega.
Adit mengerti. Perempuan yang ia
sayangi sedang butuh bantuan. Dia mau ngebantuin apa saja yang ia mampu agar
Tita merasa lebih baik. Dia nggak mengharapkan apapun, dia ikhlas. Tita masih
menangis sejadinya. “Ta, maaf gue nggak bermaksud apa-apa. Tapi daripada lo
nangis kayak gitu, gue juga nggak tega ngeliatnya. Mending lo nangis disini
aja.” Ucap Adit sambil memegang dadanya. Tita melihat ketulusannya. Dia lantas
menyandarkan kepalanya dipelukan Adit. Adit tidak tega melihat orang yang ia
sayang berlarut dalam kesedihan.
Setelah beberapa lama, Tita
menghentikan tangisannya. Tampaknya perasaannya mulai lega dan merasa lebih
baik. “Makasih ya, Dit. Gue udah lebih baik sekarang.” Ucap Tita sambil
tersenyum. Dilihatnya bawah mata Tita yang tampang bengap. “Sama-sama, Ta. Udah
jangan nangis lagi. Jelek lo kalau nangis. Hehehe” ujar Adit dengan nada
bercanda.
“Dit, gue boleh minta tolong nggak
sama lo?” Tanya Tita. “Minta tolong apa?” kata Adit bingung. “Hmm, lo mau kan
berpura-pura jadi pacar gue? Ini demi hubungan Dio dan Maura. Biar Maura sangka
gue baik-baik aja. Padahal sih emang iya hehehe.” Kata Tita. “Maaf, Ta. Kalau
yang satu itu gue nggak bisa.” Tolak Adit. “Iya gapapa kok, Dit. Gue ngerti,
memang gue terlalu jahat untuk menjadikan lo pacar pura-pura gue.” Kata Tita
dengan nada kecewa. “Gue nggak mau jadi pacar bohongan lo. Gue maunya jadi
pacar beneran lo. Gimana? Lo mau nggak?” tawar Adit. “Mau!!” kata Tita dengan
semangatnya. Tanpa disadari Tita memeluk Adit. Kabar bahagia ini diketahui oleh
seluruh anak-anak dikelas dan mereka turut bahagia atas berita ini.
Memang
dari dulu Adit dan Tita seringkali menjadi bahan ledekan satu kelas. Mereka
memang pasangan yang serasi. Cuma Tita saja yang tidak menyadari betapa
tulusnya Adit. Tita memang masih sayang dengan sahabat kecilnya, cinta
pertamanya, dan semua kenangan-kenangan saat bersama Dio. Tapi itu dulu.
Sekarang, ia hanya menganggap Dio sebagai masalalu dan bagian dari hidupnya.
Walaupun terkadang Tita suka kangen dengan masa-masa itu. Dia masih sayang Dio
sebagai sahabatnya. Dio masih ada dalam hati Tita, dalam lubuk hatinya yang
paling dasar. Tapi Tita sadar, dulu adalah dulu. Dia ingin memulai dari hal
yang baru dengan Adit.
Maura
dan Dio balikan. Dio janji pada dirinya sendiri kalau dia akan menganggap Tita
sebagian dari masalalunya, seperti yang Tita lakukan. Dia akan menyayangi Maura
dan tidak menyia-nyiakannya. Walaupun dalam lubuk hatinya yang paling dasar ia
masih menyimpan nama teman kecilnya yang juga cinta pertamanya, sama seperti
Tita.
-SELESAI-
Karya: Nadya Rachma
Ayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar